Juli 29, 2010

TANDA TANGAN

Mungkin aku adalah orang yang selalu tertinggal dalam berita atau ifen-ifen tentang Seni. Karena sekian lama aku menyenangi dunia seni dan, baru kali ini aku bertemu langsung dengan seorang tokoh Sastrawan yang sudah tidak asing lagi di dunia seni. Semua seniman pasti sudah mengenal sosok seorang sastrawan yang sudah menelurkan berbagai karya. Dia seorang sastrawan yang serba bisa, dialah Putu Wijaya.



Hari Rabu malam tanggal 28 Juli 2010 adalah malam perhelatan acara dibukanya Festival Seni Surabaya 2010. Dan aku memang sengaja untuk menghadiri acara tersebut. Dan juga karena ada seseorang yang mengundang saya lewat situs jejaring yang terkenal saat ini. Maaf, aku tidak bisa menyebut siapa namanya. Tapi, yang pasti saya berterima kasih sekali kepadanya. Dan yang lebih menyenangkan aku bisa langsung bertemu dengan seorang yang mengundang aku. Karena pas aku sudah tiba di tempat acara yang bertempat di Komplek Balai Pemuda Surabaya terus mencoba mencari seseorang yang mengundang aku. Ohh....ini orangya ucapku dalam hati. Senang bisa ketemu langsung dengan Anda.

Aku tiba diacara jam 19.26 WIB dan acara teater Sang Putu Wijaya terjadwal jam 19.30 WIB. Belum ketinggalan nich. Aku pun langsung memasuki gedung dan terus di sambut oleh para panitia Festifal Seni Surabaya 2010. Setelah aku mengisi buku tamu aku langsung memilih kursi yang telah di sediakan. Tapi tempat duduk dibagi menjadi dua, satu untuk para tamu undangan dan satu untuk umum. Aku termasuk deretan kursi yang umum karena datang atas nama pribadi.

Kurang lebih hampir 1 jam aku duduk acara yang dinanti-nantikan dimulai. Dengan gayanya yang khas dan keahliannya dalam mempertontonkan teaternya Sang Sastrawan yang serba bisa memukau para penonton dan terkadang penonton malah dibuat tegang, takut, kaget dan sesekali malah tertawa. Dalam teater yang dibawakan oleh Sang Putu Wijaya menurut aku isinya adalah tentang pendidikan di Indonesia dan juga memberikan pengertian seorang Pahlawan serta keadaan moral saat ini

Seorang pahlawan adalah orang yang tidak takut mati..... Seorang Pahlawan adalah ibarat sebuah jembatan, Jembatan bagi orang-orang untuk menyebrangi..... Seorang Pahlawan adalah ibarat sebuah tongkat.....

Itulah penggalan isi cerita dari teater yang dibawakan olah Sang Putu Wijaya.

Hampir 2 jam Putu wijaya membawakan teaternya. Para penonton yang ada baik para tamu undangan atau para undangan umum sangat menikmati dan menghayati kisah yang di bawakan oleh Sang Sastrawan. Dan di akhir cerita Sang Sastrawan menceritakan tentang burung Perkutut yang diberi kebebasan atau kemerdekaan tetapi Dia tidak mau menerima kebebasan atau Kemmerdekaan yang diberikan oleh sang majikan.

Dan inilah tanda tangan Sang Sastrawan Putu Wijaya.





Surabaya, 29 juli 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar